Minggu, 20 November 2016

8 Resep Aman Berbelanja Online

8 Resep Aman Berbelanja Online



Berbelanja dengan memanfaatkan teknologi internet atau dikenal dengan shoping online terus berkembang dan semakin memasyarakat. Sebuah studi melaporkan, saat-saat menjelang liburan, konsumen yang berbelanja secara online meningkat tajam.

Ironisnya, meningkatnya aktifitas jualan melalui online dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Tak hanya situs yang mendapat berkah, namun para penjahat digital juga mendapat berkah. Pasalnya, semakin banyak transaksi, semakin besar pula kemungkinan mereka mendapat apa yang mereka inginkan.

Bagaimana agar terhindar dari gangguan para penjahat tersebut? Inilah 8 tips aman melakukan jual-beli online:

1. Pelajari secara seksama situs tempat Anda berbelanja

Langkah ini harus dilakukan terlebih pada situs-situs yang kurang dikenal. Periksa nomor telepon si penjual dan langsung menghubungi. Kalau Anda tidak yakin, coba melalui mesin pencari Google atau Yahoo kemudian masukkan nama situs web itu.  Carilah ulasan dari konsumen mereka. Kalau ada yang tidak beres, tinggalkan saja situs itu.

2. Pelajari kebijakan situs terhadap data pribadi Anda

Jangan sampai situs tersebut memiliki kebijakan pengelola situs boleh memberikan data pribadi ke pihak lain. Baca juga kebijakan pengembalian barang. Karena barang yang dibeli tidak bisa dilihat secara fisik, dan harus ada garansi. Jika barang yang dikirim cacat, Anda berhak mengirim mengembalikan barang cacat itu untuk ditukar dengan yang bagus. Atau kalupun tidak ada, uang Anda dipastikan kembali.

3. Periksa barang dengan membaca deskripsi produk

Curigailah pada barang bermerek yang dijual dengan potongan harga yang sangat besar.

4. Jangan tergoda barang murah

Jangan terjebak pada tawaran barang dengan harga murah yang datang dari e-mail, apalagi meminta ID dan password tanpa izin dari pemilik e-mail. Itu biasanya kerjaan spammer.

Tapi hati-hati, spammer bisa juga merayu. Ia mengirim e-mail yang seolah-olah datang dari perusahaan baik-baik. Sebaiknya, kunjungi situs perusahaan baik-baik itu dan langsung belanja dari sana. Jangan via e-mail atau jendela pop-up.

5. Pastikan situs itu aman

Tanda itu biasanya berupa gambar gembok di baris status (status bar) browser. Sebelum memasukkan informasi pribadi, pastikan tanda itu ada. Ketika Anda diminta untuk memasukkan informasi pendaftaran nomor kartu kredit, lihat alamat situs web. Harusnya alamat situs web berubah dari http ke 'shttp' atau 'https'. Artinya informasi pembayaran itu dienkripsi.

6. Amankan PC Anda

Minimal PC Anda harus punya antivirus. Lebih baik lagi kalau punya anti spyware dan firewall. Ingat, peranti lunak keamanan itu harus di-update secara teratur agar PC terlindung dari ancaman terbaru. Baiknya, atur proses update secara otomatis.

7. Pertimbangkanlah cara pembayaran

Konsumen biasanya kerap melakukan pembayaran dengan kartu kredit. Dengan kartu kredit, Anda punya bukti kuat kalau Anda sudah melakukan transaksi. Jika  barang tidak diantar atau tidak sesuai pesanan, ini bisa menjadi bukti.

Namun seiring banyaknya pencurian nomor kartu kredit, maka Anda bisa mempertimbangkan pembayaran dengan menggunakan sistem seperti PayPal, transfer kirim, atau COD.

8. Periksa total harga dan biaya pengiriman

Harga barang, plus ongkos bungkus, plus ongkos kirim, mudah-mudahan ada diskonnya. Bandingkan harga total dari suatu situs dengan web lain. Simpan bukti transaksi, termasuk deskripsi produk dan harga, kwitansi digital, dan juga salinan e-mail antara Anda dengan penjual. Hal yang tak kalah penting matikan PC Anda setelah transaksi. Kalau PC dinyalakan terus, bisa saja sudah ada garong yang sudah menanamkan malware, mengambil alih kendali PC dan melakukan transaksi.  (sumber)


Baca Lika Liku Wirausaha Lainnya di Ayopreneur

Kamis, 17 November 2016

6 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membeli Bisnis

6 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membeli Bisnis



Memulai bisnis baru dari awal bukan sebuah usaha yang gampang. Anda harus melakukan semuanya dengan benar, dari memilih bidang bisnis yang tepat, memberi nama dengan baik dan menarik, memilih lokasi usaha yang strategis, hingga mengurus asuransi dan ijin usaha. Kesulitan-kesulitan itulah yang mendorong beberapa dari kita untuk membeli sebuah bisnis karena merasa lebih praktis dan mudah.

Namun, di balik semua kemudahan yang Anda dapatkan dengan membeli sebuah bisnis, Anda juga harus memperhatikan beberapa poin yang krusial. Hal ini demi mencegah kekecewaan di kemudian hari. Menurut kolumnis UsaToday.com Steven D. Strauss dalam bukunya “The Small Business Bible: Everything You Need to Know to Succeed in Your Small Business”, ada 6 hal penting yang harus diketahui sebelum membeli sebuah bisnis:

1. Alasan mengapa bisnis tersebut dijualMungkin saja sebuah bisnis dijual karena si pemilik bisnis saat itu sudah berniat untuk pensiun dan hendak mendapatkan uang tunai. Hal tersebut merupakan sebuah alasan yang baik. Alasan lainnya mungkin ialah usaha tersebut sedang bermasalah dan si pemilik ingin menjual usahanya yang hampir kolaps. Dan hal itu tentu bukan alasan yang baik. Pemilik bisnis sekarang memang bisa melakukan apa saja untuk memberikan kesan bahwa bisnisnya baik-baik saja dan menguntungkan. Namun, ia tidak bisa berbohong jika sudah berkaitan dengan hukum karena kebohongan atau pemberian informasi yang tidak sesuai fakta bisa  dianggap kebohongan. Jadi jangan lengah dengan hanya mengandalkan informasi lisan dari si pemilik bisnis. Dapatkan beberapa rujukan dari pemilik bisnis, yaitu orang-orang yang berhubungan dengan bisnis tersebut. Berbicaralah dengan mereka untuk menggali sebanyak mungkin informasi tentang bisnis yang akan Anda beli tersebut. Ajak bicara juga pemilik bisnis lain yang ada di sekitar bisnis yang hendak Anda beli.

2. Tingkat persainganSiapa saja yang akan menjadi pesaing bisnis Anda jika kelak Anda menjadi pemilik bisnis tersebut? Ketahui pula bagaimana cara si pemilik yang sekarang berkomunikasi dengan mereka. Keuntungan kompetitif apa yang Anda akan dapatkan jika bisnis tersebut sudah di tangan Anda?

3. Aset tak berwujud yang tak bisa dialihkanSejumlah bisnis berhasil berkat pemiliknya. Misalnya si pemilik memiliki banyak kolega dan relasi yang setia dan tak segan membantu, keahlian khusus, kharisma, dan sebagainya. Anda harus yakin bahwa Anda bisa menjalankan bisnis dengan baik saat bisnis itu di tangan Anda nanti.

4. Perubahan yang tertundaAmati dengan seksama apakah lingkungan di sekitar bisnis tersebut baik atau tidak. Apakah pemerintah atau pesaing potensial Anda memiliki rencana untuk daerah di mana Anda berada?

5. Hal yang harus diubahPastikan juga fasilitas dan infrastrukturnya masih dalam kondisi yang baik. Apakah dekorasinya sudah ketinggalan jaman? Bagaimana dengan saluran air dan listrik di sana? Tentu Anda tak mau membeli sebuah tempat berbisnis yang membuat Anda terjebak dengan biaya yang tinggi. Untuk alasan ini (begitu juga dengan pembelian rumah), tawaran apapun yang Anda buat harus mempertimbangkan pemeriksaan premis-premis.

6. Profitabilitas

Alasan yang mendorong Anda tertarik pada sebuah bisnis yang mapan ialah bahwa Anda ingin untuk dapat memperkirakan dengan akurat keuntungan. Cara satu-satunya untuk melakukannya yaitu dengan belajar sebanyak mungkin dari sumber-sumber pustaka dengan bimbingan akuntan Anda. Idealnya Anda harus mencermati serangkaian buku yang diterbitkan setidaknya dua tahun terakhir. (sumber)


Baca Lika-Liku Wirausaha di Ayopreneur

Rabu, 16 November 2016

"DJITU", Tips Sukses Martha Tilaar

"DJITU", Tips Sukses Martha Tilaar




Tahun 2010 bisa dibilang merupakan tahun yang penting bagi Dr. Martha Tilaar. Tahun ini Martha Tilaar Group (MTG), perusahaan yang ia miliki, menginjak usia 40 tahun. Di awal tahun ini, MTG telah menggelar acara napak tilas perjalanan Martha Tilaar sebelum namanya sebesar ini.

Di kesempatan tersebut, Martha Tilaar berbagi kunci yang selalu dipegangnya untuk bisa mengembangkan bisnis yang dirintisnya dari nol ini. Martha Tilaar membagi filosofi yang ia pegang sejak dulu. "Hidup adalah perjalanan. Ada yang sukses, hebat, tetapi juga sering bertemu dengan keadaan sulit. Ada ups and downs. Ayah saya selalu bilang, kalau mau mengubah dunia, harus mulai dengan diri sendiri," jelas wanita kelahiran 4 September 1936 ini.

Dari ayahnya pula, Martha Tilaar memegang prinsip dalam menjalani hidup. "Ayah saya selalu mengatakan, untuk bisa berhasil, seseorang harus berpegang pada 'DJITU'. D untuk disiplin, J untuk jujur, I untuk iman dan inovatif, lalu T untuk tekun, dan U untuk ulet."

Jika kesemua hal yang disebutkan di atas tadi sudah dimiliki, niscaya akan menjadi orang yang berhasil. "Krisis pun akan bisa diatasi jika Anda memiliki hal-hal tadi. Yang terpenting pula, jangan menjauhi saingan. Saingan adalah motivasi. Dengan adanya motivasi, kita tidak tinggal diam, menjadi pemacu untuk mencari terus apa yang baru," papar istri dari Alex Tilaar tersebut. (sumber)


Baca Artikel Lika Liku Wirausaha di Ayopreneur

Minggu, 13 November 2016

Selalu Berpikir Kreatif, Kritis dan Inovatif

Selalu Berpikir Kreatif, Kritis dan Inovatif


Untuk menjadi seorang entrepreneur yang andal, sungguh tidaklah mudah. Hanya orang yang mampu mengubah dirinya untuk berpikir kreatif, kritis dan inovatif yang akan berhasil dan dapat meraih sukses.

Beberapa tahun terakhir ini banyak bermunculan usahawan-usahawan baru yang dibangun oleh para pemula yang usianya masih terbilang muda. Kondisi ini merupakan satu fenomena yang menggembirakan buat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan saat ini, justru telah membangkitkan semangat kaum muda untuk menjadi seorang entrepreneur atau wirausahawan.

Sayangnya, para entrepreneur muda tersebut dalam memulai usahanya hanya dilandasi oleh kemampuan modal dan hardskill tanpa adanya perubahan pola pikir. Sehingga sebagian besar para entrepreneur muda tersebut sering menemui kegagalan yang mengakibatkan usahanya menjadi bangkrut.

Oleh karena itu, sebelum melakukan usaha seorang entrepreneur sebaiknya telah melakukan transformasi diri untuk berpikir kreatif dan jeli melihat peluang usaha. Taufik Bahaudin, staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengakui, fenomena bangkitnya semangat entrepreneurship di kalangan generasi muda Indonesia saat ini sangat membanggakan.

Namun banyak entrepreneur muda yang gagal dalam berusaha bukan karena tidak menguasai produk atau jasa yang dihasilkannya. Kegagalan itu terjadi karena para usahawan muda tersebut belum mengubah mindset-nya. "Kegagalan itu terjadi karena para entrepreneur muda tersebut belum mengubah pola pikirnya (mindset). Jadi untuk menjadi seorang entrepreneur, ia harus mempunyai kekuatan berpikir sebagai entrepreneurship. Orang yang belum mengubah pola pikirnya sebagai entrepreneurship, ia hanya mampu menguasai konsep dan teori saja. Hal itulah yang menyebabkan usahanya gagal," jelas Taufik Bahaudin seperti dimuat dalam Seputar Indonesia.

Mengubah Mindset

Memang untuk menjadi entrepreneur, tentunya kita harus punya keberanian. Tak hanya berani bermimpi, tapi juga berani mencoba, berani gagal dan berani sukses. Hal itu penting dan harus kita miliki. Selain itu, entrepreur juga harus mempunyai rasa optimisme dalam menghadapi masa depan, yakin pada kemampuan, dan juga menghentikan alur pemikiran yang negatif.

Hal yang selalu menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengubah pola pikir menjadi seorang entrepreneur? Banyak orang belum menyadari bahwa membangun entrepreneurship itu dibangun dari soft competesis-nya. "Untuk menjadi entrepreneur, seseorang tak bisa hanya berpijak pada kompetensi hard skill, tapi juga pada kemampuan soft skill dan attitude yang baik. Karena yang membedakan entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur adalah prilakunya dalam merespons lingkungan di sekitarnya," pungkas Taufik.

Untuk mengubah pola pikir atau mindset, orang tersebut harus mempunyai keinginan dan kemampuan untuk menjadi seorang entrepreneur sesuai kebutuhannya. Kebanyakan orang tidak pernah berpikir untuk mandiri, kreatif, kritis dan inovatif.

Taufik pun mengungkapkan banyak contoh yang menunjukkan bahwa entrepreneurship berawal dari mindset bukan dari modal yang besar. Masih ingat dengan perjuangan Bob Sadino mendirikan Kemfood dan Kemchick? Atau bagaimana Larry Page dan Sergey Brin mendirikan Google, serta perjuangan Bill Gates mendirikan Microsoft.

Faktor uang bukan yang paling utama, tetapi sikap mental dan berpikir kreatif menjadi sangat penting? Oleh sebab itu, konsep entrepreneur jangan semata-mata dihubungkan dengan pedagang. Entrepreneur harus diartikan sebagai sikap mental yang mampu membaca peluang dan bisa memanfaatkan peluang itu sehingga bernilai bisnis.

Faktor Keturunan dan Lingkungan

Taufik pun menambahkan kalau saat ini masih banyak yang menilai faktor keberhasilan seseorang menjadi entrepreneur karena berasal suku tertentu. Apalagi kita masih sering melihat bahwa kebanyakan orang Padang, Bugis, atau keturunan China itu lebih berhasil di bidang bisnis dibanding suku lainnya.

Sehingga disimpulkan, bahwa hal itu karena sifat keturunan atau atau bakat. "Pendapat yang menyatakan hanya suku tertentu saja yang mampu menjadi entrepreneur, menurut saya itu salah. Siapa pun dan dari suku apa pun sebenarnya mampu menjadi entrepreneur yang sukses," katanya. Namun Taufik mengakui, kesuksesan seseorang menjadi entrepreneur juga dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.

Jika seseorang sejak kecilnya berada dalam lingkungan bisnis orang tuanya atau keluarganya secara terus menerus, dia akan merekamnya dalam memori otaknya, yang selanjutnya membentuk pola berpikir dan cara perilaku. Pengetahuan bisnis secara pragmatis melalui proses pengenalan bisnis keluarga secara mendalam dan ditransformasikan ke dalam kerangka berpikirnya.

Dengan pengalaman dan pola pikir yang kuat akan mendorong orang tersebut melakukan pengembangan karakter kewirausahaan, seperti keberanian mengambil risiko, kemampuan menganalisa, komunikasi dan kepemimpinan, serta meningkatkan kesadaran dan kepekaan sosial.

Dengan adanya transformasi karakter tersebut diharapkan dapat seseorang yang memiliki jiwa, karakter dan sikap wirausaha yang cerdas dan tangguh.Sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan orang memiliki budaya entrepreneur (culture of entrepreneurship) dan budaya keunggulan (culture of excellence) di Indonesia. (sumber)